METODE DAKWAH MARIO TEGUH DAN ARY GINANJAR

Posted: Maret 8, 2010 in Uncategorized

DAKWAH

ARY GINANJAR DAN MARIO TEGUH


TUGAS :

METODOLOGI DAKWAH

NAMA KELOMPOK :

ACHMADI

AHFAS FAISAL

BAYU PRIMANTORO

FAIZUR RAHMAT

HAYU NISLAH

SUGIARTI

METODOLOGI DAKWAH

ARY GINANJAR DAN MARIO TEGUH

  1. I. PENDAHULUAN

Masyarakat indonesia adalah masyarakat yang tingkat keingintahuaannya tinggi. Terlebih dari sisi keagamaan yang dianutnya, mayoritas mayarakat indonesia menganut agama islam, karena masuknya agama islam di indonesia secara damai dan bersahabat. Dari keadaan diatas dapat dipahami bahwa masyarakat indonesia membutuhkan pemahaman tentang keagamaan yang lebih, terutama agama islam. Sekarang banyak sumber yang dapat menjadi panduan yang berhubungan tentang agama. Ada dari buku, internet, bahkan dari para pemuka agama dan tokoh masyarakat.

Masyarakat menilai dakwah yang langsung dapat dipahami dan dimengerti adalah apa yang disampaikan oleh dua tokoh terkemuka di indonesia yaitu ary ginanjar dan mario teguh. Sistem dakwah mereka sangat banyak dirasakan oleh masyarakat indonesia.

Jadi pertanyaan yang muncul adalah yang pertama bagaimanakah sistem dakwah yang dilakukan oleh Mario Teguh dan Ary Ginanjar  dapat menyusun kalimat-kalimat yang inovatif itu?

Yang kedua Bagaimana Mario Teguh dan  Ary Ginanjar menyampaikan dakwah kepada masyarakat?

II. Pembahasan

METODE ESQ

Dalam ESQ, trainer berusaha merancang sebuah metode yang efektif dan komprehensif dengan menggunakan teori Quantum Learning. Implementasi dari teori tersebut dalam training ESQ adalah dengan cara merangsang seluruh indera peserta mulai dari penglihatan, pendengaran serta menyeimbangkan antara kerja otak kanan dan otak kiri, seperti: penggunaan musik, efek suara yang menggelegar atau suara alam (air, angin, burung), efek pencahayaan, gambar yang berwarna serta aktivitas fisik.[1]

Seluruh efek yang dihadirkan dalam ruangan training ESQ tersebut tidak lebih dari upaya untuk membawa peserta merasakan pengalaman yang digambarkan dalam materi, juga membawa suasana alam (outdoor) ke dalam ruangan, seperti merasakan besar dan luasnya galaksi, bintang-bintang dan jagat raya.

Metode Quantum Learning yang digunakan oleh ESQ LC telah diakui secara ilmiah sebagai metode yang efektif dalam proses pembelajaran.

Bagaimana Mario Teguh menyusun kalimat-kalimat yang inovatif itu?

Jadilah orang berilmu,” kata Mario Teguh mengawali perbincangannya. Tak hanya dalam satu bidang saja, namun hendaknya kita memiliki ilmu dalam banyak hal yang seluas-luasnya. Pemahaman kita terhadap ilmu juga diusahakan sedalam-dalamnya dan serinci mungkin. Dalam mempelajari berbagai macam ilmu itu sangat perlu untuk mengupayakan pencapaian yang setinggi-tingginya, jangan setengah-setengah.

Kita akan mendapatkan semua itu dengan terus-menerus belajar tanpa ada kata lelah dan cukup. Selain itu, kita harus lebih banyak mendengar dari siapa pun, baik dari orang yang baik maupun orang yang salah. Dari orang-orang yang baik, kita bisa belajar kebaikannya. Sedangkan dari orang-orang yang salah kita bisa mengambil nilai-nilai positif, asal kita bersedia mendengarnya dengan sikap yang santun. Mario Teguh mengatakan, “Lidah yang salah akan bernilai pada telinga yang santun.”[2]

kita berilmu, kemudian mau memberi pertolongan kepada orang lain. Memberi pertolongan memunyai makna yang dalam bagi Mario Teguh. Seseorang yang meminta pertolongan kepada kita sebenarnya ia berdoa kepada Tuhan agar menurunkan sedikit kekuatan-Nya lewat diri kita. Meski sedikit kekuatan Tuhan itu besar, “Sedikit-dikitnya kekuatan Tuhan, tak bisa disebut kecil,” jelasnya. Orang yang dipilih Tuhan untuk menjadi perantara-Nya pasti akan dipelihara martabat dan keluhurannya sehingga dipandang sebagai orang yang mulia. Karena itu sebenarnya kita harus berterima kasih dan berkasih sayang kepada orang yang meminta pertolongan kita.

Adakalanya, dalam memberi itu kita merasa dimanfaatkan orang lain. Namun, kalau sudah ada keikhlasan dalam hati kita, perasaan itu tak sampai menimbulkan kemarahan. Kita yakin bahwa sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang memberi manfaat kepada manusia yang lain.

Dalam menempuh kehidupan, banyak orang merasa menderita dan putus asa. Ia melihat keputusasaan itu disebabkan karena mereka banyak mensyaratkan untuk menjadi orang sukses. Dan sebagian besar syarat itu diletakkan di luar diri mereka sehingga mereka tak menoleh ke dalam dirinya. Karena tak melihat, mereka tak mengetahui modal sukses itu sebenarnya ada dalam diri mereka sendiri.

Saat orang memunyai keinginan, cita-cita atau harapan, saat itu pula Tuhan memberi izin sekaligus memberinya kekuatan untuk mewujudkannya. “Tuhan tak ‘kan memberi manusia keinginan tanpa memberinya pula kekuatan untuk mewujudkan,” kata pria yang pernah berkarir di banyak perusahaan itu.

Kekuatan yang diberikan Tuhan itulah sebenarnya modal untuk menjadi sukses. Namun tak semua orang mengetahuinya, sehingga membutuhkan seseorang untuk menunjukkannya. Orang yang sudah mengetahui modal yang ada dalam dirinya akan lebih semangat menjalankan hidup.

Kalau hidupnya sudah bersemangat, seseorang akan melihat penderitaan yang sekarang dialami dari sudut pandang yang berbeda. Penderitaan itu sebenarnya suatu fase penyiapan bagi dirinya. Mario Teguh memberi ungkapan, selembar tembaga perlu ditempa, dipukul-pukul dengan palu untuk menjadi wadah yang cantik. Pria kelahiran Makassar itu pun menambahkan, “Untuk menjadi sebuah seruling yang mengeluarkan bunyi yang merdu perlu dilukai dengan pisau dan ditusuk dengan besi yang membara.”

Orang tak perlu mengeluh dengan kegagalan dan penderitaan karena kegagalan dan penderitaan itu tak permanen. Sebaliknya orang juga tak seharusnya sombong dengan keberhasilan dan kesuksesannya karena keberhasilan dan kesuksesan itu juga tak permanen.[3]

Bagaimana Mario Teguh menyampaikan dakwah kepada masyarakat?

Kondisi masyarakat kita berbeda dengan kondisi sosial di negara Timur Tengah. Konsep dan metode dogma yang diterapkan Mario Teguh di sini jelas tidak akan bisa diterima sosial di sana.

Sebuah dogma motivasi dan ’siraman rohani’ (pengajian) yang dikemas dalam sebuah acara televisi “Mario Teguh, Golden Way” yang berusia setahun, menyuguhkan dan menyajikan konsep modern serta matode inovatif yang dapat diterima segala lapisan masyarakat dari berbagai daerah, suku dan agama yang berbeda.

Mario Teguh adalah sosok ‘ustad’ atau ‘rohaniwan’ atau ‘motivator ulung’ di balik sukses pengajian “Golden Way”, yang memang terkesan borjuis, eksklusif dan prestisius. Filosofi dogmanya ada di balik permainan apik dalam mengolah kata-kata.

Kalimat yang diucapkan sederhana, jelas, tegas, lugas dan mudah dicerna siapapun yang mengikuti secara seksama acara mau’idzoh hasanah (ceramah dogma) ini, yang tidak pernah menyertakan sumber nukilan (referensi) dari sebuah kitab suci atau literatur keagamaan.

Mario Teguh menjadikan para ‘fans religiusnya’ atau ‘fans dogmatisnya’ terus menerus dalam kondisi penasaran tentang siapa hakikat dirinya yang sebenarnya. Hingga kini, penulis terus bertanya-tanya tentang sosok Mario Teguh. Apakah dia ustadz yang beragama Islam? Atau rohaniwan yang beragama Kristen? Atau, dia seorang suhu yang beragama Hindu atau Buddha?

Fenomena inilah yang menjadikan acara “Mario Teguh Golden Ways” ‘pengajiannya’ selalu menyedot perhatian kaum intelektual yang strata sosialnya multidimensi.

Ada statemen menarik dari Mario Teguh. “Kalau saya menukil ayat dari sebuah kitab suci (apapun), maka Anda tidak berhak mendebat ayat tersebut. Padahal, saya menghendaki adanya perdebatan (tanggapan) dari Anda semua. Saya manusia, maka saya pun berbuat salah.”

Menggeluti profesi sebagai ustadz, rohaniwan, motivator atau orator podium harus menguasai materi menarik, memiliki retorika (ilmu berpidato) yang mumpuni, menguasai keadaan audiens, memiliki kemampuan (skill) menalar dan siap membuka diri dengan lapang dada ketika ada sanggahan atau kritikan yang tajam.

Pengajian keagamaan selama ini menyuguhkan materi-materi klasik yang kurang menarik, retorika yang membosankan, dogma-dogma religius ‘paten’ yang punya kesan tidak boleh disanggah atau didebat. Kemampuan menalar dari sejumlah pengasuh pengajian dalam menjawab berbagai pertanyaan forum terkesan ‘cekak’ (pas-pasan) dan tak kena sasaran atau jauh dari kata memuaskan.

Konsep mendasarnya ada pada kemampuan menalar dari materi bahasan yang diangkat. Mario Teguh, misalnya memiliki kemampuan menalar mumpuni yang belum dimiliki siapapun yang memimpin suatu majelis taklim, forum diskusi atau forum organisasi sosial-keagamaan.

Padahal, dalam asas dasar agama apapun, hanya pembahasan yang menyangkut masalah akidah (iman) dan ibadah saja yang tidak boleh menggunakan logika akal (nalar). Selain itu, justru sering terjadi diferensiasi (perbedaan) yang tajam mengenai mukamalat (tatanan) kehidupan sehari-hari yang merujuk pada penggunaan logika akal sehat kaum cendekiawan.[4]

Meski bobot dan kualitas ilmu agamawan bersumber dari literatur dan pijakan kitab yang sama, namun nalar dan cara pandang masing-masing seharusnya difokuskan pada peningkatan gairah belajar dan semangat menuntut ilmu dari para audiensnya. Fakta riilnya, antusiasme masyarakat dalam belajar dan menuntut ilmu dari sebuah pengajian misalnya, hanya terjadi pada awal-awal pertemuan saja.

Selanjutnya, acara pengajian semakin hari semakin sepi dan tidak ada gairah lagi. Ironis bukan? Acara “Mario Teguh, Golden Ways” meski bukan acara pengajian agama, tapi telah memberikan wacana dan nuansa pemikiran baru yang mengetuk hati para pengasuh pengajian agar lebih membuka diri dalam menalar suatu problem dan berkenan lapang dada dalam menerima kritik atau saran dari setiap audiens.

Bukanlah forum siraman rohani yang baik bila pengikutnya (santri) selalu datang dan pergi silih berganti. Siapapun yang berprofesi sebagai pembimbing dalam sebuah forum pengajian harus memutar otak untuk membuat variasi pengajaran atau doktrinitasnya dengan nalar yang logis dan retorika yang funny agar mereka yang datang mendapatkan ilmu dan motivasi yang dapat memberikan semangat dalam menghadapi problematika kehidupan.

Bagaimana Ary Ginanjar menyusun kalimat-kalimat yang inovasi itu?

Pertama, Ary sukses menggabungkan metode pelatihan SDM dengan ayat-ayat Alquran; antara kecerdasan emosional dan spiritual dengan kebutuhan dunia kerja yang berorientasi pencapaian keuntungan ekonomis; antara ajaran-ajaran Islami dengan realitas sehari-hari di dunia kerja yang bersifat universal. Penggabungan-penggabungan dua atau lebih konsep yang berbeda tersebut jelas merupakan ciri kreativitas dan inovasi. Memang penggabungan seperti itu kadang menimbulkan masalah, terutama bila produk baru yang dihasilkan tidak bisa dimasukkan dalam kategori produk yang sudah dikenal luas sebelumnya. Ary sendiri menghadapi masalah tersebut ketika toko-toko buku tidak tahu harus menaruh buku ESQ-nya di bagian mana. Kalau ditaruh di bagian agama, buku tersebut adalah buku tentang SDM. Kalau ditaruh di bagian SDM, buku tersebut berisi ayat-ayat Alquran. Akhirnya, buku tersebut dengan terpaksa ditaruh di bagian Best Sellers. Sebuah kemujuran? Ya, bisa jadi memang demikian. Tetapi, bukankah banyak inovasi kelas dunia yang sukses juga berawal dari kemujuran?

Kedua, inovasi ESQ tersebut diperoleh dari penjelejahan ke dalam diri Ary sendiri. Inovasi produk terbaik, tentu saja adalah inovasi yang bersifat unik dan sulit ditiru, tetapi tetap dihargai banyak orang. Dengan menciptakan sesuatu dari pengalaman dan pergelutan diri sendiri, produk Ary tersebut jelas unik dan sulit ditiru oleh orang lain. Selain itu, ternyata jawaban yang diperoleh dari pergelutan tersebut juga merupakan jawaban yang banyak dicari-cari orang lain. Dan karena ESQ adalah hasil pergelutan Ary sendiri selama bertahun-tahun, Ary jelas menyimpan passion yang sangat tinggi terhadap hasil karyanya itu.[5] Dengan adanya keunikan produk yang dibungkus oleh passion penciptanya, ditambah dengan pasar yang besar yang membutuhkan produk tersebut, Ary berhasil menemukan rahasia keberhasilannya.

Ketiga, Ary cukup cerdas berpindah dari fase eksplorasi ide ke eksploitasi produk. Pada fase eksplorasi, Ary masih mencari-cari metode penyebaran ajaran dan pelatihan yang cocok. Namun ketika dia telah berhasil menemukan metode yang cocok, Ary langsung mempatenkan produknya dan menciptakan standar. Standar tersebut sangat dibutuhkan untuk mempercepat penyebaran produknya (dalam hal ini, pelatihan). Di sini kita bisa belajar bahwa inovasi yang berhasil bukan melulu mengenai romantisme pencarian ide-ide baru, namun juga melibatkan kerja keras untuk menciptakan efisiensi dalam menyebarkan hasil produksi. Ary berhasil karena mampu menjalankan kedua fase tersebut dengan baik.

Ary dan ESQ-nya telah banyak menyumbang kemajuan SDM Indonesia. Tetapi, ternyata bukan itu saja yang bisa diajarkan Ary kepada kita. Kita juga bisa belajar bagaimana Ary mampu berinovasi dengan baik dan benar, walau dia mungkin tidak pernah belajar teori-teori mengenai inovasi. Dan mungkin itulah pelajaran terpenting mengenai inovasi: Teori-teori hanyalah permainan intelektual yang indah, tetapi pada akhirnya praktek dan implementasilah yang lebih penting. Ary pasti setuju dengan pernyataan tersebut.[6]

Bagaimana Ary Ginanjar menyampaikan dakwah kepada masyarakat?

Sukses Ary dan ESQ-nya tersebut tentu tidak datang dengan mudah. Pria kelahiran tahun 1965 tersebut mengaku tidak puas dengan pelajaran agama yang diperolehnya sejak SMP. Dia bahkan sempat mempertanyakan eksistensi Tuhan. Untung saja kegelisahan tersebut berhenti ketika dia bertemu seorang ulama Bali, KH Habib Adnan, yang mengajarinya Islam dengan metode berpikir bebas (free thinker). Sepulang dari Mekkah, lulusan TAFE College Adelaide (Australia) ini mencurahkan pergelutan dan kegelisahannya dalam sebuah buku.

Namun siapa Ary waktu itu? Buku tersebut ditolak oleh penerbit-penerbit besar. Tidak putus asa, Ary akhirnya memutuskan menerbitkan sendiri buku tersebut lewat perusahaan yang didirikannya, PT Arga. Buku tersebut, ESQ: Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual itu ternyata laris manis dan hingga akhir tahun lalu sudah terjual lebih dari 500.000 eksemplar.

Pencapaian Ary tidak berhenti sampai di situ. Setelah sukses meluncurkan buku perdananya, Ary mulai menyusun kurikulum pelatihan ESQ selama 3 hari. Pelatihan tersebut dirancang semenarik mungkin dengan menggunakan sound system dan fasilitas multimedia lainnya. Bukan itu saja, Ary juga meminta perlindungan hak paten atas metodenya. Menurut Ary, dia meminta hak paten tersebut setelah pelatihan diberikan sebanyak 1000 kali. Metode pelatihan tersebut distandarkan sehingga kata-kata dan intonasi para trainer yang mengajarkan metode ini harus sama. Saat ini, Ary memiliki sekitar 50 orang trainer yang siap membantunya.

Metoda penyampaian Al Quran dan hadis dengan menggunakan teknologi informasi sebagaimana yang dilakukan ESQ merupakan hal yang positif.[7] Pernyataan itu didasarkan pada kisah Rasulullah yang mengapresiasi sahabat yang membawakan lampu yang terang-ben-derang yang digunakan untuk belajar Al Quran, seperti menguak tabir rahasia tentang adanya korelasi yang sangat kuat antara dunia usaha, profesionalisme dan manajemen modern, dalam hubungannya dengan intisari Islam, yaitu Rukun Iman dan Rukun Islam. Ary Ginanjar berusaha menggabungkan Emotional Intelligence (EQ) yang didasari dengan hubungan antara manusia dengan Tuhannya (SQ), sehingga menghasilkan ESQ: Emotional and Spiritual Quotient . Ary Ginanjar memaparkan pemikirannya melalui sebuah ESQ Model, yang menggambarkan seluruh pemahaman dan fenomena secara komprehensif. Bermula dari titik fitrah, berlanjut kepada pembangunan prinsip hidup yang membangun mental, hingga ketangguhan sosial yang dirangkumkan secara berintegrasi.

Pembaca diharapkan dapat berpikir secara jernih terlepas dari belenggu pemikiran yang selama ini menghalangi kecerdasan emosi manusia. Hasil dari penjernihan emosi ini dinamakan “God-Spot” atau fitrah.[8] Ary Ginanjar menjelaskan tentang arti pentingnya alam pikiran, Dan tahap ini menjabarkan mengenai cara membangun alam berpikir dan emosi secara sistematis berdasarkan Rukun Iman yang diperkenalkan dengan istilah Enam Prinsip, yaitu:
Star Principle – Prinsip Bintang (Iman kepada Allah)
Angel Principle – Prinsip Matahari (Iman kepada Malaikat)
Leadership Principle – Prinsip Kepemimpinan (Iman kepada Nabi dan Rasul)
Learning Principle – Prinsip Pembelajaran (Iman kepada Al Qur’an)
Vision Principle – Prinsip Masa Depan (Iman kepada Hari Kemudian)
Well Organized Principle – Prinsip Keteraturan (Iman kepada Ketentuan Allah)

Ary juga menjelaskan mengenai tiga langkah pengasahan hati yang dilaksanakan secara berurutan dan sangat sistematis berdasarkan Rukun Islam.[9] Langkah ini dimulai dengan Mission Statement (Dua Kalimat Syahadat), dilanjutkan dengan Character Building (Shalat 5 Waktu) dan diakhiri dengan Self Controlling (Puasa). Dengan melakukan ketiga langkah ini, pembaca diharapkan dapat memiliki ketangguhan pribadi, ketangguhan pribadi perlu diimbangi dengan ketangguhan sosial yang dapat diwujudkan dengan pembentukan dan pelatihan untuk melakukan sinergi dengan orang lain atau dengan lingkungan sosialnya. Pelatihan yang diberikan dinamakan Strategic Collaboration atau Langkah Sinergi (Zakat) dan Total Action atau Langkah Aplikasi Total (Haji).

III. Kesimpulan

Untuk menjadi seorang yang sukses, tidak hanya dibutuhkan intelegensi yang tinggi tapi juga kecerdasan emosi yang tidak hanya berorientasi pada hubungan antar manusia semata tapi juga didasarkan pada hubungan manusia dengan Tuhannya. Dengan demikian, manusia yang menyadari akan hakekat hidupnya sebagai makhluk Allah, cara berpikirnya tidaklah hanya  semata mengejar kebahagiaan dunia, kepuasan material, kepuasan yang hanya sesaat. Dengan bimbingan hati nurani atau ‘God Spot’ manusia akan berhasil menjadi seorang khalifah sesuai dengan fitrahnya. Karena sesungguhnya dengan meningkatnya kecerdasan spiritual maka kecerdasan emosi dan kecerdasan intelektualnyapun akan makin meningkat. Karena Al-Quran telah mengajarkan keseimbangan di alam semesta.

IV. Daftar Pustaka

Ginanjar Agustian, Ary. 2001. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual. Jakarta: Arga

Suherman. Burhanudin, Nandang. 2006. Dialog peradaban Anis Matta-Ary Ginanjar Agustian: refleksi dua ikon perubahan mencipta manusia paripurna. Jakarta: Fitrah Rabbani

Teguh, Mario. 2005. Becoming a Star. Jakarta: Syaamil Cipta Media


[1] Ginanjar Agustian, Ary. 2001. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual. Jakarta: Arga

[2] Teguh, Mario. 2005. Becoming a Star. Jakarta: Syaamil Cipta Media

[3] Teguh, Mario. 2005. Becoming a Star. Jakarta: Syaamil Cipta Media

[4] Teguh, Mario. 2005. Becoming a Star. Jakarta: Syaamil Cipta Media

[5] Suherman. Burhanudin, Nandang. 2006. Dialog peradaban Anis Matta-Ary Ginanjar Agustian: refleksi dua ikon perubahan mencipta manusia paripurna. Jakarta: Fitrah Rabbani

[6] Ginanjar Agustian, Ary. 2001. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual. Jakarta: Arga

[7] Ginanjar Agustian, Ary. 2001. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual. Jakarta: Arga

[8] Suherman. Burhanudin, Nandang. 2006. Dialog peradaban Anis Matta-Ary Ginanjar Agustian: refleksi dua ikon perubahan mencipta manusia paripurna. Jakarta: Fitrah Rabbani

[9] Ginanjar Agustian, Ary. 2001. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual. Jakarta: Arga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s